My Biografi


Biasanya hal paling saya lakukan adalah mendengarkan music. Bagi saya music itu bagaikan hidup kita yang terkadang suka namun kadang juga duka. Tapi karena suka dan duka itulah hidup kita semakin berwarna dan lebih bermakna.
Saya adalah mahasiswa Universitas Sumatera Utara jurusan Teknik Perangkat Lunak semester kelima. Nama Saya Silviani tapi bisanya sehari – hari dipanggil Silvi. Saya sendiri merupakan etnis Tiong-Hua dan merupakan satu – satunya mahasiswa Tiong-Hua dalam kelas kuliah saya. Tapi hal itu tak menjadi masalah atau membuat minder malahan saya semakin banyak teman berbagai suku, ini merupakan kegembiraan.
Saya lahir di Medan tahun 1990 bulan Maret, merupakan anak sulung dari 3 bersaudara. Sebagai yang tertua tentunya harus pintar – pintar mengalah sama adik – adik. Orangtua saya adalah orang yang sederhana. Mama sebagai ibu rumah tangga dan papa bekerja di sebuah perusahaan swasta.
Kakek dan nenek buyut saya asalnya dari Negara tirai bamboo alias China yang merantau ke Indonesia tepatnya di Medan ini. Kisah lucunya, mereka tidak dapat kembali ke Negara asal mereka lagi karena terjadi perang di Indonesia waktu silam itu. Masa itu banyak sekali penduduk China yang datang merantau ke Indonesia sampai – sampai banyak penduduk China yang tidak bisa pulang karena jumlah kapal makin sedikit karena hancur diakibatkan pemberontakkan. Salah satu yang tak dapat pulang itu ya…kakek dan nenek buyut saya.
Awal perjalanan saya, dari lahir sampai SD kelas 6 saya tinggal di kota Perbaungan berhubung papa kerja di sana. Saya sekolah di sebuah sekolah swasta, SD Setia Budi. Semasa SD, saya lumayan terkenal dan dikenal para guru dan siswa. Uniknya semasa SD saya hanya sekali tidak menjadi 3 besar. Sekali itu saat kelas 1 caturwulan kedua, itupun ranking 4. Saya masih ingat saat itu saya menangis keras dan menangis sepanjang harinya. Boleh dibilang semasa SD paling sering meraih juara umum alias juara 1, berapa kali, ya..? Haha… hampir tiap tingkatan juara 1, apalagi pas kelas 2 SD, pemecah rekor 3 kali caturwulan juara 1.
Semasa SD, saya paling suka pelajaran bahasa Inggris dan IPA. Dari pelajaran IPA, saya sudah ada cita – cita menjadi…dokter bahkan sampai astronot. Kalau pelajaran olahraga biasanya saya sering bermain kasti khususnya bermain sebagai pemukulnya. Kalau masalah persahabatan, teman yang paling banyak ya..teman cowok. Habis gimana donk…teman cewek pada cengeng semua. Paling seru lagi…ternyata berantam dengan cowok pun pernah juga. Sampai baju cowok itu koyak karena kulawan….aneh!!
Lalu perpisahan masa SD membuat haru juga. Sekian lama tinggal di kota kecil itu akhirnya aku harus pergi ke tempat yang katanya lebih bagus untuk pendidikanku. Lalu tibalah aku di kota Medan yang gemerlap sehingga sulit bernafas karena manusianya banyak sekali.
Setibanya di Medan, aku tinggal dengan nenek beserta keluarga lainnya. Lalu aku sekolah di sekolah Swasta WR Supratman 1 dari SMP sampai SMA. Ketika sampai di gerbang sekolah itu, jelas aku ini terkejut dan mau pingsan. Orangnya banyak, putih – putih, berbahasa khas anak Medan, tampak kaya dan sombong. Aku ini bagai anak kampung yang tampak bodoh saja. Kuakui…entah apa yang harus aku lakukan!!
Sekolah Medan dan kotaku dulu memang berbeda jauh. Dimulai dari ketertibannya. Tiap kali guru masuk kelas harus bersiap dan member hormat. Agak aneh bagiku…! Bagaimana tidak, tiap kali terdengar kata bersiap dari ketua kelas maka yang duduk pun mau nggak mau harus berdiri.
Anak – anak Medan beda dengan anak kampung temanku dulu. Awalnya aku tak mengerti mengapa anak Medan hobinya pamer dan suka membeli barang mahal dan tentunya mereka punya banyak trik untuk menyontek. Mereka juga tak memperdulikanmu jika kau tampak bodoh dan pakaianmu tidak mahal. Mereka pemilih teman. Apalagi aku….? Anak kampung yang masuk kota yang uang jajannya hanya Rp.5000,00 yang bagiku sudah besar dibanding dulu uang jajanku Rp.3000,00. Uang jajan mereka bias mencapai 20 kali lipat dari milikku bahkan lebih. Ini gila!! Aku ternyata masuk ke sekolah orang elit.
Sekolahku ini salah satu yang terbaik di Medan. Uang sekolahnya pun lumayan mencekik leher. Andai dari awal aku tahu harganya begitu aku pasti menolak masuk sekolah itu. Pendidikan di sekolah itu memang baik. Beberapa guru memang killer dan member hukuman menyakitkan dan memalukan jika kau tidak lulus dalam mata pelajarannya. Walau berat harus bertahan!!
Semasa SMP, aku lumayan bisa masuk 10 besar dari penduduk kelas yang orangnya lumayan pintar dan licik itu. Semasa SMP, guru olahraga mengira aku bias karate karena aku tak malu – malu memperagakan geraknya lalu permainan catur dan Othello, lumayan lancar! IPA tetap menjadi mata pelajaran kesukaan apalagi Biologi, setelah belajar bab Genetika Hukum Mendell, aku jadi semakin tertarik menjadi dokter yang meneliti penurunan sifat dan penyakit. Di kelas 3 SMP, guru Biologi bahkan menyanjung banyak tentang bakatku dalam biologi. Di kelas Matematika, aku tidak akan melupakan guru yang paling sering memberi soal yang aneh – aneh. Karena soal seperti itu, matematika dan logikaku mulai meningkat. Di pelajaran Bahasa Indonesia, baca puisi dan pidato mungkin aku tidak kalah buruknya. Haha… Lalu pelajaran yang paling dikesalin adalah Mandarin… huhu…
Naik kelas dan berubah warna rok sekolah menjadi abu – abu. Ternyata aku masuk sebagai salah satu penduduk kelas X – 1 sekaligus sebagi kelas Plus. Otomatis ini mengejutkan dan menyenangkan sekali karena akan bertemu dengan para DIVA yang pintar – pintar bahkan jenius. X -1 merupakan idola.

Naiknya kelas menjadi kelas XI jurusan Il mu alam, ini membuat harapan menjadi pekerja medis semakin dekat , semasa itu aku salah satu yang berbakat dan 10 orang nilai tertinggi setiap ujian biologi. Tapi anehnya, tahun 2007 saat diadakan olimpiade sains se-sumut, saya malah ikut serta sebagai peserta tim astronomi bukannya biologi. mungkin karena saya tertarik dengan teropong bintang dan ilmu perbintangan  juga saat itu. Dalam olimpiade sains itu saya hanya dapat masuk dalam 30 besar. Lumayan....walau nggak sampai jadi finalis yang akhirnya ikut olimpiade sains se-indonesia lagi. Pengalaman dan tambah teman juga dalam ajang itu.

Persahabatan kami kelas XI-IA-1 sampai XII-IA-1 sangat erat, jumlah siswa di kelas cuma 38 orang. Semuanya juga saling mengenal dan akrab. Nama kelas kami adalah SQUAD ==> Science with Quality And  Dignity.

Sekarang, semuanya pada kuliah. Ada yang kuliah di China, Malaysia, Singapore, Japan dan Australia. Yang lainnya seperti saya ya kuliah di Indonesia. Ada yang dari mereka kuliah di Surabaya, Jakarta dan seperti saya juga di Medan. Rata - rata mereka berbakat bahkan ada yang mendapat beasiswa. Yang paling heboh sampai masuk koran itu salah satu teman saya yanbg sekarang kuliah Computer Science di Australia.

Saya sekarang cukup senang dan bersyukur kepada Tuhan karena walau saya bukan di jurusan yang saya inginkan sekali tetapi saya masuk di jurusan Teknik Perangkat Lunak. Ini sangat menggembirakan karena disini saya juga harus berjuang mempelajari hal baru yang bukan berbau kedokteran.

Semoga semua yang saya pelajari di jurusan ini dapat membuahkan hasil yang baik dan tentunya dapat menolong manusia serta makhluk hidup lainnya layaknya ilmu yang didapatkan dokter untuk menyelamatkan pasiennya yang benar membutuhkan pertolongan.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia....
Good Day!!!Good Luck!! ^_^xz
Category: 1 comments